Ibu dan Pendidikan

Posted on: 8 January 2021

Sore itu hujan gerimis, sambil menikmati secangkir kopi panas dan rebusan pohong aku termangu di teras rumah. Pikiranku melayang-layang membawa ke kondisi pendidikan anak-anak di masa lalu dan pendidikan anak-anak di masa kini. Pikiranku tertuju pada sosok seorang ibu, karena tumbuh kembang anak tak bisa dipisahkan dari peran pendidikan yang diberikan Ibu.



Pendidikan paling utama adalah keluarga dan Ibu adalah guru utama. Ibu memiliki peran penting pada pendidikan dan tumbuh kembang anaknya. Dari pendidikan Ibulah karakter anak akan terbangun dalam mengarungi kehidupan yang akan dilaluinya.


Ibu Zaman Old


Pada waktu dulu tidak sedikit seorang Ibu yang hanya berpendidikan jenjang dasar yang tak permah mendapat selembar ijazah dengan kata lain tidak lulus jenjang dasar, namun pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya melebihi teori pendidikan masa kini, melebihi teori psikologi tumbuh kembang anak walaupun tak paham teori pendidikan dan ilmu psikologi.


Pada waktu dulu Ibu tak pernah mengajari anaknya materi pelajaran sekolah, tak paham teori perkembangan anak, tak mengerti arti pendidikan sekarang yang begitu gencarnya menjadikan anak menghadapi era disrupsi dengan membentuk anak menjadi critical thinking, creatif, memiliki jiwa comunication, dan colaboration. Yang Ibu pahami hanyalah mendidik anak sesuai usianya dan kemampuannya.


Mari kita ingat, bagaimana Ibu saat itu mendidik anak. Ibu memberikan tugas harian rumah kepada anaknya sesuai dengan kemampuannya. Tugas harian yang diberikan Ibu adalah membantu pekerjaan rumah orang tua yang harapannya kelak anak akan memiliki tanggung jawab. Pembagian tugas harian rumah itupun disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dimulai dari hal sederhana. Dari tugas yang diberikan Ibu hakekatnya adalah pembentukan karakter tanggungjawab kepada anak.


Begitu juga dengan sikap Ibu yang selalu mengingatkan dan menanyakan tugas yang diberikan kepada anaknya. Jika anaknya lupa mengerjakan tugas yang diberikan tidak segan-segan akan marah dan akan memberikan hukuman jika mengulangi lagi. Hal ini akan membentuk karakter disiplin pada anak.


Ibu juga mengajarkan kepada anaknya bersikap santun ke orang tua, ke orang yang lebih tua, dan kepada gurunya. Jika Ibu mendapat laporan dari guru tentang sikap anaknya di sekolah yang kurang baik, tidak segan-segan Ibu akan memberikan hukuman yang lebih dari gurunya, bahkan Ibu akan menyampaikan ke gurunya dengan memberikan keleluasaan untuk memberi hukuman kepada anaknya jika bersikap kurang baik dalam belajar di sekolah. Karena bagi Ibu sikap kurang baik anaknya adalah kegagalan dalam mendidik.


Saya teringat cerita dari seorang teman yang pada waktu itu pergi ke Luar Negeri untuk mendalami model pendidikan di sana. Di bandara Ia mendapati seorang Ibu menangis di pojok ruang tunggu,setelah didekati dan ditanya ternyata Ibu tersebut telah gagal mendidik anaknya karena anaknya telah menyerobot antrian saat membeli kue di toko bandara tersebut. Itulah pentingnya pendidikan karakter bagi anak. Begitu urgent dan pentingnya pembentukan sikap anak bagi Ibu.


Ibu juga mendidik anaknya dalam bertutur kata dengan orang lain, memberikan keleluasan ke anaknya untuk bermain dengn tetangga yang sebayanya. Bahkan mungkin Ibu akan menyuruh anaknya untuk bermain dengan teman-temannya saat libur sekolah. Pada hakekatnya Ibu telah mendidik anaknya tentang komunikasi dan kolaborasi dalam berkehidupan.


Ibu juga akan selalu memberikan motivasi kepada anaknya saat belajar, meskipun Ibu tidak mengerti materi pelajaran. Walaupun yang dilakukan Ibu hanya sekedar duduk di samping anaknya menungguinya belajar. Hakekatnya Ibu telah membangun motivasi anak dalam belajar. Sikap tersebut pernah ada dalam sebuah cerita kisah nyata yang pernah saya baca, anak seorang tukang bangunan yang tidak lulus SD dan sudah tidak tahu materi pelajaran anaknya, namun setiap malam sang Bapak selalu menemani anaknya di kala belajar.


Di sekolah anaknya adalah anak yang baik, sopan, disiplin, dan nilai akademiknya luar biasa mengalahkan anak dari keluarga dengan fasilitas lengkap. Saat kelulusan SD, anaknya juara I dengan mendapat predikat sangat baik. Ketika diminta untuk menyampaikan pengalamannya di hadapan orang tua yang lain, Sang Bapak menyampaikan bahwa Ia tidak tahu materi pelajaran anaknya yang Ia lakukan hanyalah menunggui anaknya belajar. Hal ini juga selaras dengan banyak riset yang telah dilakukan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam peningkatan hasil belajar anak.


Dari pendidikan yang diberikan oleh Ibu pada uraian di atas maka tumbuhlah anak yang sekarang ini kita temui adalah lahirnya generasi yang mandiri, disiplin, tanggung jawab, generasi era disrupsi dengan karakternya 4c: Critical Thingking, creatif, comunication, dan colaboration.


Ibu Zaman Now


Jika kita amati kondisi akademis Ibu zaman dulu dengn Ibu sekarang ini. Saat ini sudah banyak kita temui seorang Ibu secara akademisi memiliki gelar akademik yang berjajar baik di depan nama maupun di belakang namanya. Ibu yang sangat hafal dengan teori pendidikan masa kini, teori tumbuh kembang anak, dan teori-teori perkembangan anak lainnya.


Namun tidak sedikit kita temui pendidikan yang diberikan kepada anaknya tidak sesuai dengan tingkat akademik yang diperolehnya. Jarang sekali saat ini Ibu memberikan pendidikan ke anaknya dengan memberikan tugas harian rumah, banyak ibu yang sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga sekedar duduk di samping anaknya saat belajarpun tidak sempat. Bahkan yang lebih mengerikan lagi banyak Ibu yang memberikan kemudahan ke anaknya hanya sekedar alasan klasik jangan sampai anaknya mengalami kesulitan seperti pada dirinya.


Karena alasan klasik tersebut sehingga Ibu lupa memberikan bekal kepada anaknya menghadapi kehidupan yang akan datang. Ibu sekarang sudah tidak lagi mengajarkan kepada anaknya untuk menjalankan tugas rumah harian, bagi mereka yang berkecukupan semua diserahkan ke ART.
Dalam hal anak belajar, Ibu sekarang tidak banyak yang mendampingi anaknya hanya sekedar duduk di samping anaknya yang sedang belajar. Kebanyakan anaknya dibiarkan belajar sendiri disiapkan ruang khusus belajar dengan alasan agar tidak terganggu belajarnya. Secara fasilitas sikap Ibu sangat baik namun hakekat motivasi tidak dirasakan oleh anak, belajar terasa gersang dan merasa menjadi bebannya.


Jika Ibu sekarang mendengar anaknya mendapat hukuman dari sekolah karena sikap belajar anak yang kurang baik, tidak segan-segan justru Ibu akan membela anaknya dan bahkan ada yang menuntut hingga ke ranah hukum. Dari hal tersebut tidak memberikan contoh sikap baik saat menuntut ilmu dan hormat kepada gurunya, sehingga banyak kita temui anak-anak yang berani melawan gurunya.


Tidak jarang kita temui, Ibu yang melarang anaknya bemain dengan teman tetangganya dengan alasan nti sakit, kotorlah dan alasan-alasan lainnya yang justru tidak mendidiknya sehingga banyak anak yang tidak memahami lingkungan dan kurang empati.


Hal-hal tersebut mungkin hanyalah sebagian kecil keadaan pendidikan di rumah saat ini, karena masih banyak kita temukan Ibu sekarang yang justru memberikan pendidikan kepada anaknya lebih bagus dan lebih modern sesuai dengan perkembangan zamannya.


Dari uraian di atas bahwasannya Ibu memiliki peran pertama dan utama dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak. Semoga bermanfaat.


Oleh : Ust. Heri Murtomo, S.Pd - Guru SD Luqman Al Hakim Surabaya.

Versi cetak


Berita Terkait


Visitors :4822488 Visitor
Hits :5812385 hits
Month :3658 Users
Today : 526 Users
Online : 38 Users






Sekolah Tahfidz


Sekolah Para Juara






Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Soraya Pambudi

    anggada121212@gmail.com

    Surabaya Timur Pakuwon

    Pada 23-Aug-2019


    Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mohon informasi pendaftaran sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021. Mohon maaf apakah sekolah ini mempunyai program kelas internasional? Maksudnya apakah menerima siswa berwarganegaraan Asing?

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi